IP
Welcome To DEVI SETIASIH's Blog
Padang lapang untuk gembalakan jejak-jejak jiwaku itu adalah hidupmu. Serumpun embun, ilalang ranum, bunga-bunga perdu, kemerisik sepi, percik api dan setumpuk album kenangan bersampulkan rindu.

Devi Setiasih 12

Matahari selalu meyakinkan kita
bahwa untuk setiap malam yang gulita dan panjang
pasti menyimpan sisi terang di ujungnya
Sisi terang yang selalu berbeda dari satu waktu ke lain waktu.
Tetapi ada kenikmatan yang hampir sama, ialah kehangatan
seperti genggaman tanganmu
merapatkan jari-jemari pada jemariku di dada.

Pornstar Indonesian Agency



PIA (Pornstar Indonesian Agency) adalah agen yang memfasilitasi Wanita Sexy dan Cantik Indonesia untuk tampil dan banyak dikenal oleh penggemar-penggemarnya. Jika anda merasa cantik dan sexy, silakan kirimkan biodata anda ke DEVISETIASIH@ROCETMAIL.COM. Berisikan : Nama, Alamat, No Telpon (HP), Url Blog/Facebook, dan Foto Sexy Terakhir.

PIA akan membantu anda untuk terkenal dan mempunyai banyak penggemar. 
And Be A Star !!

Devi Setiasih 11


Ketika kamu tertidur, aku di sisimu menjaga
merangkai permata kehidupan kita
hingga malam larut gulita
kusulam metafora dalam rajutan kata.
Mimpi indah tercipta.

Kutatap wajahmu, kamu manis pulas terlena
di ujung bibirmu senyum masih tersisa
seperti terselip sekuntum bunga.
Kucium bunga itu dengan kecupan mesra
di lembaran sajak kujadikan tandabaca.

Sebab itulah sajakku bermekaran warna
sebuah perjalanan di taman-taman surga
keindahan tak ada habisnya, tak ada matinya
terangkai makna ungkapan karya pujangga
di penghujung malam kupanjatkan sebagai doa.

Ketika kamu terjaga, kubacakan sebait cinta
kusaksikan sinar matamu menjelma bintang kejora
wajahmu putih ceria, pagi mengembang cahaya
itulah bagian terindah puisi yang kucipta
ketika kamu tersenyum bahagia.

Devi Setiasih 10


Andai aku tak bertemu kamu
langit hanya lembaran biru dan bukan kanvas untukmu
untuk kulukis gerimis dan garisgaris pelangi
lalu kutorehkan matahari di pinggir pagi.
Kuhiasi bingkai hatimu dengan cahaya.

Andai aku tak bertemu kamu
malam hanyalah bangku menunggu pagi
ku tidur mendengkur atau begadang menghitung bintang
bulan hanya lampu lindap ditiup angin.
Aku terjerat reranting dingin.

Andai aku tak bertemu kamu
hidup hanya setampakan siang setumpukan malam
seperti sajak kelam dan tanpa pembaca
angin melemparnya memecah jendela.
Aku entah ke mana.

Devi Setiasih 9


Matahari selalu meyakinkan kita
bahwa untuk setiap malam yang gulita dan panjang
pasti menyimpan sisi terang di ujungnya
Sisi terang yang selalu berbeda dari satu waktu ke lain waktu.
Tetapi ada kenikmatan yang hampir sama, ialah kehangatan
seperti genggaman tanganmu
merapatkan jarijemari pada jemariku di dada.

Gerimis kadang datang
tetapi itu akan memperindah ladang bunga
saat kugunting pelangi untuk ikat rambutmu
dan bidadari tak dapat turun ke bumi karenanya.
Kamulah pemandangan paling indah
sedang senyumanmu terekam abadi lukisan Davinci.

Di rebak rambutmu, kucium semerbak melati
setiap kali kusibak tiap helainya, aku menemukan wajahmu
manja berbisik pada angin. Akulah bidadari itu.

Devi Setiasih 8


Sepiring senja dan ceplok mentari kemerahan. Disajikan dengan rasa sayang. Taburan gerimis dikupas tipis. Seikat pelangi menambah sedap hidangan. Seleraku bertambah saat kautambahkan saos canda. Kecap manis di bibirmu kuhapus dengan ciuman.

Kekasihku: cinta adalah hidangan. Resep rahasianya ketulusan dan pengorbanan. Rahasia yang dibawa Adam dan Hawa dari surga. Cinta adalah menu istimewa bagi setiap pasangan, yang membuat kita bertahan dalam segala cobaan. Yang membuat bertambah saling rindu, membuat kecanduan cumbu.

Angin beringsut perlahan. Langit hanyut ke seberang. Santapan ini tak sedikit pun berkurang. Kekasihku: cinta adalah hidangan sejuta rasa, bikin hilang rasa kelaparan, bikin enak hati dan pikiran. Selalu ingin sayangsayangan, siang dan malam. Jiwa khusuk terpuaskan.

Lihat gerimis. Seperti butirbutir kasih sayang yang kutaburkan dalam hidupmu, adalah pelangi untuk permadani kita ke nirwana. Berkilauan penuh warna. Tak usah khawatir remang menghapusnya dari cakrawala. Sebab gulungan pelangi tak ada habisnya di hatiku. Semuanya kuhidangkan untukmu.

Devi Setiasih 7


Telah kukirim selembar surat pada sungai di hatimu
dengarlah gemercik suaranya ketika angin membacakannya.

Telah kukirim sebuah perahu sarat muatan rindu padamu
debarlah diriku mewakili kata-kata tak terucapkan.

Devi Setiasih 6


Aku tak bisa menyusun kata
penutup yang indah
untuk mengakhiri percakapan

hanya bisa kutatap matamu
sampai embun.

Bahkan bintang-bintang telah
bergugur
tetapi aku enggan tidur
sibuk menganyam bait demi bait kasih di rambutmu
seribu musim merajut singgasana
di atas kelambu

bukankah malam adalah istana
tempat paling megah
di atas bumi
engkau dan aku selalu bersanding
berbagi cerita berbagi puisi
berbagi mimpi

menciptakan pagi.

Devi Setiasih 5


Di sebuah Januari tanpa hujan
kutemani tubuhmu di dipan muram

tetapi yang aku lihat adalah bidadari
lemah terbaring di pinggir surga

di taman, bunga-bunga menunggumu
berkuncup dalam doa.

Mendampingimu adalah isyarat cinta
bahwa kesetiaan bukanlah kata-kata semata.

Lalu sebuah pagi sepenuhnya milik kita
ketika kau buka jendela dan udara bersorak gembira.

Devi Setiasih 4


Matamu sepasang coklat tua yang teduh. Memandangmu, seperti rindang pepohonan di tengah kolam seroja. Aku tercebur. Jatuh dan mencintaimu. Dan cinta: berpendar dalam berjuta pixel warna. Memancar di percik cipratan airmatamu.

Dan di sejuk tatapanmu, aku melukis puisi. Sebab di sana ada spektrum cinta. Membuat rindu seteduh biru lautan yang anggun menyusun ombak gemuruh. Membuat kecemasan membias ungu seperti langit malam menunggu bintangbintang berlabuh.

Membuat harapan secerah mentari di jendela subuh. Yang membuat merah wajah kita, setiap kali tak dapat menahan dahsyatnya ledakan jantung. Dan seikat pelangi mencercahkan seluruh warna dalam satu goresan senyum.

Bulu matamu yang lepas, biar kujadikan kuas, hanya agar semua terlukis seindah rindu padamu. Kutahu tanganku tak mampu menoreh warna selembut tatapanmu, menggoreskan kata selembut ucapan mu. Tidak juga mataku dan tidak juga mulutku.